Rudy Susanto Blog: ionosphere
Showing posts with label ionosphere. Show all posts
Showing posts with label ionosphere. Show all posts
PEMODELAN IONOSFER  LINTANG RENDAH GEOMAGNET DI ATAS WILAYAH INDONESIA DARI DATA GPS

PEMODELAN IONOSFER LINTANG RENDAH GEOMAGNET DI ATAS WILAYAH INDONESIA DARI DATA GPS

Desertasi S3, ITB, 2009 ABSTRAK PEMODELAN IONOSFER LINTANG RENDAH GEOMAGNET DI ATAS WILAYAH INDONESIA DARI DATA GPS Oleh Buldan Muslim NIM : 35104002 Promotor : Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Zaenal Abidin MSc. Co-Promotor : Prof. The Houw Liong Ph.D. Co-Promotor : Dr. Ir. Wedyanto Kuntjoro MSc. Penentuan total electron content (TEC) ionosfer dan pemodelan ionosfer lintang rendah geomagnet di atas wilayah Indonesia (-2,77° sampai -20,65° lintang geomagnet) diperlukan untuk koreksi ionosfer dalam penentuan posisi presisi tinggi menggunakan GPS frekuensi tunggal. Data dan model TEC juga penting untuk analisis prekursor gempa bumi di ionosfer dalam upaya memahami kopling litosfer-atmosfer-ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi. Dalam penelitian ini telah dikembangkan metode penentuan TEC ionosfer dari data GPS, pemodelan TEC ionosfer di atas wilayah Indonesia dan metode pemunculan prekursor gempa bumi dari data dan model TEC ionosfer. Model konseptual kopling litosfer-atmosfer-ionosfer juga telah dikembangkan dengan melibatkan pengaruh gravitasi bumi lokal yang sebelumnya belum diperhitungkan, untuk menerangkan anomali variasi diurnal TEC ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi. Data pengamatan sinyal Global Positioning System (GPS) frekuensi ganda dari stasiun-stasiun GPS kontinyu di Indonesia dan sekitarnya telah digunakan untuk penurunan TEC ionosfer menggunakan metode pelevelan fase. Algoritma penentuan TEC tersebut telah diimplementasikan menggunakan software matlab yang dapat digunakan untuk mengunduh data GPS melalui file transfer protocol (ftp) dan kemudian untuk penentuan TEC ionosfer. Model ionosfer lintang rendah geomagnet di atas wilayah Indonesia telah dikembangkan berdasarkan data TEC ionosfer. Secara temporal model ionosfer tersebut dapat dikelompokkan menjadi model harian yang dikembangkan dari data TEC harian dan model bulanan yang dikembangkan dari rata-rata bulanan data TEC harian. Secara spasial model TEC harian dapat diklasifikasikan ke dalam model lokal yang didasarkan pada satu stasiun referensi GPS dan model regional yang didasarkan pada beberapa stasiun referensi GPS. Formulasi model TEC harian merupakan kombinasi dari fungsi polinom untuk merepresentasikan variasi spasial ionosfer dan fungsi harmonik untuk merepresentasikan variasi diurnal koefisien-koefisien polinom model spasial ionosfer. Orde dari fungsi polinom dan harmonik dioptimasi dengan meminimalkan kesalahan model terhadap data pengamatan. Dengan cara tersebut diperoleh model TEC harian lokal di atas Jawa Barat dari stasiun BAKO yang optimum adalah P(12,2,2) di mana angka pertama adalah orde fungsi harmonik untuk merepresentasikan variasi diurnal ionosfer, angka kedua adalah orde fungsi polinom merepresentasikan variasi lintang ionosfer dan angka terakhir adalah orde fungsi polinom untuk merepresentasikan variasi bujur ionosfer. Dengan cara yang sama model TEC harian regional yang diperoleh adalah P(12,7,3). Model TEC bulanan regional Indonesia dibuat menggunakan fungsi polinom untuk representasi variasi lintang ionosfer, fungsi harmonik untuk representasi variasi diurnal ionosfer dan fungsi linier untuk representasi respon ionosfer terhadap aktivitas matahari. Model TEC regional Indonesia yang telah diperoleh adalah P(6,5,0,1), di mana 6 adalah orde fungsi harmonik untuk representasi variasi diurnal ionosfer dalam kerangka waktu lokal, 5 adalah orde fungsi polinom untuk representasi variasi lintang ionosfer, 0 menunjukkan orde variasi bujur ionosfer yang berarti pada waktu lokal yang sama variasi bujur ionosfer diabaikan, dan 1 adalah orde fungsi polinom untuk representasi respon ionosfer terhadap aktivitas matahari yang berarti respon ionosfer terhadap aktivitas matahari adalah linier pada saat siklus matahari sedang naik dan turun. Model TEC bulanan regional yang telah diperoleh adalah TEC model sederhana ionosfer lintang rendah Indonesia (TEC MSILRI). TEC MSILRI yang didasarkan pada data TEC rata-rata bulanan pada jam tertentu dapat digunakan sebagai referensi nilai TEC pada hari-hari tenang untuk bulan tertentu di atas wilayah Indonesia sehingga dapat digunakan untuk koreksi ionosfer pada penentuan posisi GPS frekuensi tunggal pada hari-hari tenang dan untuk pemunculan anomali ionosfer baik yang terkait dengan badai matahari maupun prekursor gempa bumi. Data dan model TEC MISILRI dapat dikombinasikan untuk penurunan indek aktivitas ionosfer (indek S), yang dapat digunakan sebagai parameter cuaca antariksa di atas wilayah Indonesia. Indek aktivitas pasut diurnal TEC ionosfer (indek A) juga telah diturunkan dari data TEC harian. Analisis spasial anomali indek A beberapa hari sebelum gempa bumi besar menunjukkan bahwa indek A dapat digunakan untuk identifikasi prekursor gempa bumi menggunakan fungsi eksponensial, untuk prediksi besar gempa menggunakan model radius daerah persiapan gempa bumi dan perkiraan episenter gempa bumi menggunakan metode reseksi yang diadopsi dari metode penentuan posisi GPS. Penurunan TEC ionosfer beberapa hari sebelum gempa bumi besar dapat dijelaskan dengan model kopling litosfer-atmosfer-ionosfer yang disebabkan penurunan gravitasi bumi lokal yang dapat memodifikasi medan listrik dinamo daerah E melalui modifikasi amplitudo gelombang pasut diurnal atmosfer, dapat mempercepat drift vertikal atmosfer netral dan menurunkan drift difusi ionosfer. Anomali ionosfer yang disebabkan oleh anomali gravitasi bumi merupakan hipotesis alternatif. Berbagai upaya teori dan eksperimen lanjut diperlukan dalam rangka menguji hipotesis tersebut. Kata kunci: GPS, ionosfer, lintang rendah, Indonesia, model, indek ionosfer, anomali, prekursor gempa bumi.
Prekursor Ionosfer Gempabumi dari Anomali Variasi Harian

Prekursor Ionosfer Gempabumi dari Anomali Variasi Harian

Prekursor Ionosfer Gempabumi dari Anomali Variasi Harian
GPS TEC Ionosfer
Buldan Muslim1), Sarmoko Saroso1), The Houw Liong2)
Hasanuddin Z. A.3), dan Wedyanto3)
1)National Institute of Aeronautucs and Space (LAPAN), Bandung, Indonesia
2)Dept. of Physics, Bandung Institute of Technology, Bandung Indonesia
3)Geomagnetic and Geodesy Group, Bandung Institute of Technology, Bandung, Indonesia

Abstract
Total elektron content ionosfer (TEC) dapat diperoleh dari sebuah observasi dasar Global Positioning System (GPS). Kumpulan GPS terdiri dari 24 jumlah satelit., yang terdistribusi pada 6 orbit mengelilingi bumi pada ketinggian ~20200 km. masing-masing satelit menstranmisikan sinyal pada dua frekuensi (f1 = 1575,42 MHz dan f2 = 1227,60 MHz) dengan dua kode yang berbeda, C/A dan P(Y) dan dengan dua fase pengangkut yang berbeda, L1 dan L2. Karena ionosfer adalah sebuah medium yang menyebar, kecepatan perambatan gelombang elektromagnetik ditransmisikan oleh satelit GPS tergantung pada frekuensi gelombang radio. Kenaikan fase pengangkut dan keterlambatan pengelompokan sinyal GPS di ionosfer adalah sebanding dengan elektron content terintegrasi sepanjang perambatan garis edar satelit. Berdasarkan fase pengangkutan dan kode data pseudorange pengamatan oleh penerima GPS berlokasi di sekitar Indonesia, kami memperoleh TEC ionosfer meggunakan metode fase levelling. Tujuan menemukan hubungan anomali variasi harian dengan gempa-gempa besar di Indonesia dan area sekitarnya, kami menggunakan analisis harmonik dari pengamatan TEC pada beberapa stasiun GPS. Hasil dari analisis harmonik menampakkan bahwa amplitudo variasi harian dari TEC mengalami penurunan (anomali negatif) atau peningkatan (anomali positif) beberapa hari setelah gempa utama, dan mengggunakan analisis spasial dari anomali amplitudo, magnitude beberapa gempa besar dapat diperkirakan. Kemungkinan mekanisme anomali variasi harian GPS TEC ionosfer akan didiskusikan juga.
Variabilitas Harian Equatorial Spread F di Atas Biak

Variabilitas Harian Equatorial Spread F di Atas Biak

Indonesian Journal of Physics, Vol 12, No 3 (2001)

Variabilitas Harian Equatorial Spread F di Atas Biak (01 derajat LS, 135 derajat BT)
Buldan Muslim, Sarmoko Saroso, The Houw Liong

Abstract

Kejadian equatorial spread F (ESF) di Biak (01 derajat LS, 135 derajat BT) telah diteliti berdasarkan data harian selama Maret dan April tahun 1992 dengan kondisi "sunspot" sedang dalam bentuk laju pertumbuhan ketidakteraturan menggunakan mekanisme ketidakmantapan Gravitational Rayleigh-Taylor (GRT) yang meliputi instabilitas gravitasi dan persilangan antara medan listrik dan medan magnet. Statistik kejadian ESF di Biak telah diuji dalam hubungannya dengan variasi ketinggian maksimum h'F setelah matahari terbenam, kecepatan kenaikan h'F dan fluktuasi dari kenaikan tersebut. Selain itu juga dikaitkan dengan aktivitas matahari dan geomagnet. Didapatkan bahwa variasi harian kejadian ESF di Biak dapat dijelaskan dengan baik secara umum menggunakan dasar mekanisme GRT. Berdasarkan pada data Maret tahun 1992 - 1995 kejadian ESF menurun dengan berkurangnya aktivitas matahari.
Indonesian TEC Regional Model

Indonesian TEC Regional Model

ITB Journal Vol. 38A No. 2, 2006

Pemodelan TEC Regional dari data GPS stasiun tetap di Indonesia dan Sekitarnya

Buldan Muslim, Hasanuddin Z. Abidin2), The Houw Liong3), Wedyanto Kuntjoro2), Cecep Subarya4), Heri Andreas2) & M. Gamal2)



1)Kelompok Dinamika Atmosfer Atas, Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi

Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN, Jl. Dr. Junjunan 133 Bandung 40173

2)Kelompok Keahlian Geodesi dan Geomatika, Program Studi Teknik Geodesi

Fakultas Teknik dan Linkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung

3)Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmi Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung

4) Bidang Geodinamika, Pusat Geodesi dan Geodinamika, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 46, Cibinong 16911

Abstract.

Ionosphere affect propagation of electromagnetic waves through it by adding a transmission delay time. In GPS positioning and navigation, ionospheric delay is largest source of error after error from Selective Availability (SA) was turned off. For GPS positioning precisely ionospheric effect must be estimated so ionospheric correction can be determinated to eliminate ionospheric effect on GPS observation. In positioning by using GPS single frequency, ionospheric correction can be obtained from GPS dual frequency receiver at reference station or model. This paper describes method of determination and modeling of regional total electron content (TEC) from continuous GPS station in Indonesia and it’s around. Spatial model of TEC at certain time is estimated by using polynomial function. Diurnal variation of polynomial model coefficient at certain hour from 00.00 – 23.00 UT is estimated with Fourier expansion.


Keywords: Regional; model; calibration; total electron content; code and phase combination; ionospheric bias and GPS.
Modeling of Regional Total Electron Content (TEC) from Continuous GPS Station in Indonesia

Modeling of Regional Total Electron Content (TEC) from Continuous GPS Station in Indonesia

PROC. ITB Sains & Tek. Vol. 38 A, No. 2, 2006, 163-180

Buldan Muslim, Hasanuddin Z. Abidin2), The Houw Liong3), Wedyanto Kuntjoro2), Cecep Subarya4)2) , Heri Andreas& M. Gamal2)
1)Kelompok Dinamika Atmosfer Atas, Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi
Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN, Jl. Dr. Junjunan 133 Bandung 40173
2)Kelompok Keahlian Geodesi dan Geomatika, Program Studi Teknik Geodesi
Fakultas Teknik dan Linkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
3)Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmi Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
4) Bidang Geodinamika, Pusat Geodesi dan Geodinamika, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 46, Cibinong 16911

Abstract.
Ionosphere affect propagation of electromagnetic waves through it by adding a transmission delay time. In GPS positioning and navigation, ionospheric delay is largest source of error after error from Selective Availability (SA) was turned off. For GPS positioning precisely ionospheric effect must be estimated so ionospheric correction can be determinated to eliminate ionospheric effect on GPS observation. In positioning by using GPS single frequency, ionospheric correction can be obtained from GPS dual frequency receiver at reference station or model. This paper describes method of determination and modeling of regional total electron content (TEC) from continuous GPS station in Indonesia and it’s around. Spatial model of TEC at certain time is estimated by using polynomial function. Diurnal variation of polynomial model coefficient at certain hour from 00.00 – 23.00 UT is estimated with Fourier expansion.

Keywords: Regional; model; calibration; total electron content; code and phase combination; ionospheric bias and GPS.
Notification
Ini adalah popup notifikasi.
Done